Meriahnya Acara Java Scooter Rendezvous X 2016 Sentul

Yuk, mengintip meriahnya acara JSR X 2016 di Sentul!

Memilih Warna Tas Agar Serasi Dengan Busana

Jangan salah pilih warna tas kalau tidak mau terlihat aneh.

Mujiyono; Dari Tukang Bakso Hingga Pekerja Bangunan

Siapa Pak Mujiyono? Ada apa dengan beliau?

Si Tua yang Perkasa

Yuk intip Vespa klasik ini.

Cara Mudah Merawat Sepatu Kusam

Formen mempersembahkan tips dan trik merawat sepatu agar tetap awet.

Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2016

Biografi Sang Petinju Muhammad Ali






FORMEN - Biografi Muhammad Ali Ia lahir sebagai Cassius Marcellus Clay, Jr. pada 17 Januari, 1942. Dia dikenal sebagai pensiunan petinju Amerika Serikat dan juga juara tinju kelas berat. Pada tahun 1999, Ali dianugerahi "Sportsman of the Century" oleh Sports Illustrated.Ali tiga kali menjadi Juara Dunia Tinju kelas Berat.
                                      
Ali lahir di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Namanya mengikuti nama ayahnya, Cassius Marcellus Clay, Sr. Ali kemudian mengubah namanya setelah bergabung dengan Nation of Islam dan akhirnya memeluk Islam Sunni pada tahun 1975.

Sebelum masuk Islam, dia menjuluki dirinya dengan “Yang Terbesar” karena dia adalah petinju terbaik pada masanya. Bahkan para pengamat olah raga mengakuinya sebagai petinju terbaik abad ini. Sejarah tinju belum pernah mengenal petinju secepat dia. Dia berlaga dengan gesit di atas ring dan memukul KO lawannya, lalu berseru dengan bangga, “Akulah yang terbesar”.

Akan tetapi setelah masuk Islam, dia membuang julukan ini, karena tidak suka membanggakan diri dan menjadi seorang yang sederhana dengan jiwa yang Islami. Dialah petinju dunia Casius Mercelus Clay yang setelah itu dikenal dengan Muhammad Ali Clay. Dia bercerita tentang perjalanannya masuk Islam.

Muhammad Ali dilahirkan di Kentucky, Amerika Serikat. Daerah yang dikenal dengan ayam goreng khas yang memakai namanya, yang juga terkenal dengan perbedaan etnis yang kental. Sejak kecil Muhammad Ali sudah merasakan perbedaan perlakuan ini karena aku berkulit coklat. Barangkali hal inilah yang mendorongku untuk belajar tinju agar bisa membalas perlakuan jahat teman-temannya yang berkulit putih. Dan karena Muhammad Ali mempunyai bakat serta otot yang kuat sehingga memudahkan jalannya.

Ketika belum genap berusia 20 tahun, Muhammad Ali sudah memenangkan pertandingan kelas berat di Olimpiade Roma tahun 1960. Hanya beberapa tahun kemudian Muhammad Ali berhasil merebut juara dunia kelas berat dari Sony Le Stone dalam pertarungan paling pendek, karena hanya beberapa menit Muhammad Ali berhasil menjadi juara dunia. Dan di antara tepuk riuh para pendukung dan kilatan-kilatan alat kamera, Muhammad Ali berdiri didepan jutaan penonton yang mengelilingi ring dan kamera TV Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengganti namanya menjadi Muhammad Ali Clay. Untuk memulai sebuah peperangan baru melawan kebatilan yang menghalanginya mengumumkan ke-Islaman-nya semudah ini.

Kepindahan Muhammad Ali ke agama Islam adalah hal yang wajar dan selaras dengan fitrah-fitrah yang Allah ciptakan untuk manusia. Kembalinya ke fitrah kebenaran membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berfikir, ini dimulai tahun 1960, ketika seorang teman muslim menemaninya pergi ke masjid untuk mendengarkan pengajian tentang Islam. Ketika mendengarkan ceramah, Muhammad Ali merasakan panggilan kebenaran memancar dari dalam jiwaku, menyeruku untuk menggapainya, yaitu kebenaran hakikat Allah, agama dan makhluk.

“Aku membandingkan ajaran Trinitas dengan ajaran Tauhid dalam Islam. Aku merasa bahwa Islam lebih rasional. Karena tidak mungkin tiga Tuhan mengatur satu alam dengan rapih seperti ini. “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang”. (QS. 36 : 40). Ini suatu hal yang mustahil terjadi dan taka akan memuaskan orang yang berakal dan mau berfikir”. Ucap Muhammad ali. 
Sumber: Biografiku.com

Oleh Sukma Muhammad Nur

Selasa, 14 Juni 2016

Agung Mulyawan: Cedera yang Membawa Berkah

Formen Magazine - Muda, gigih, pantang menyerah; itulah sifat-sifat yang dapat menggambarkan Agung Mulyawan. Di usianya yang masih terbilang muda, ragam prestasi olahraga tingkat nasional dan daerah dari cabang Atletik, Tae Kwon Do, dan Futsal sudah ia sematkan kala menjadi atlet maupun sebagai pelatih.

Bakat keolahragaan pria alumni SMA Negeri 3 Bogor dan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Jakarta ini mulai tercium sejak duduk di bangku salah satu Sekolah Menengah Pertama di kota Bogor. 

Pria yang akrab disapa Agung ini, sudah bisa menunjukkan potensinya dalam bidang olahraga. Tak pelak, bakatnya dilirik guru olahraga sekolahnya yang saat itu juga menjabat sebagai pelatih kepala tim Atletik kota Bogor.

Kekonsistensian dan ketekunannya dalam berlatih membuahkan hasil. Pasalnya, di tahun yang sama, ia berhasil meraih medali emas kejuaraan Atletik cabang Lari Cepat 100 m tingkat usia 13-15 tahun se-kota Bogor.

Makin tua, makin jadi. Pepatah klasik tersebut pantas disematkan dalam diri Agung. Ragam prestasi menghampiri ketika ia masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Adapun prestasi yang ia raih, antara lain medali perak kejuaraan Atletik Sirkuit Jawa-Bali cabang Lompat Jauh, medali emas kejuaraan Tae Kwon Do Antarperguruan se-kota Bogor, dan juara dua kejuaraan Futsal Pelajar se-Kota Bogor. Semuanya ia capai di tahun 2007. Tak sampai di situ, pada tahun 2008, Agung juga menuai banyak prestasi, di antaranya, medali perak Atletik cabang Lompat Jauh POPDA Jabar dan kembali meraih juara dua di kejuaraan Futsal Pelajar se-kota Bogor.

Saat masuk ke jenjang perkuliahan, cedera Hamstring menimpa Agung. Bukan Agung namanya jika menyerah begitu saja, keteguhannya dalam melewati masa-masa sulit membuahkan hasil.

“Saat kena Hamstring, Alhamdulillah, medali perak kejuaraan Atletik POMNAS Palembang cabang Lari Estafet 4 x 100 m tahun 2009 dan medali perak kejurnas PPLM Riau cabang Lari Estafet 4 x 100 m tahun 2010 sampai di tangan,” ujar pria yang tahun ini menginjak usia 26 tahun.

Akhir tahun 2011, Agung memutuskan untuk pensiun dari karirnya di bidang Atletik akibat badai cedera yang menimpanya.

Kini, imbas dari prestasinya yang menggunung, Agung menjabat sebagai asisten pelatih kepala PB PASI (Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia, red.) yang kala itu sedang mempersiapkan perwakilan altletnya untuk mengikuti ajang Sea Games 2015 di Singapura. Tim asuhan Agung berhasil membawa pulang empat medali emas, dua medali perak, dan satu medali perunggu.



“Setelah pensiun, perwakilan PB PASI meminta saya untuk menjadi asisten pelatih Bapak Wita Witarsa, sampai sekarang. Sekarang sih lagi fokus PON Jabar 2016, Sea Games 2017 di Malaysia, dan ASIAN Games 2018 di Indonesia,” ujarnya.

Oleh Rizky Agustian

Kamis, 21 April 2016

Mujiyono; Dari Tukang Bakso, Hingga Pekerja Bangunan

Oleh: Rizky Agustian

JAKARTA – FORMEN, Tuntutan zaman menjadi motivasi bagi banyak orang untuk meraup untung sebanyak-banyaknya, terlebih karena kebutuhan yang kian hari kian menggunung. Berbagai macam cara ditempuh demi menghidupkan keluarga, salah satunya menjadi pekerja bangunan.

Adalah Mujiyono (43), buruh pekerja bangunan asal Purworejo, Jawa tengah, yang memutuskan merantau ke Jakarta demi mencukupi kebutuhan hidup. Berbekal selembar ijazah SD, ia membulatkan tekad untuk merantau ke kota yang menjadi pusat perekonomian negara tersebut.

“Waktu itu saya nekad mas, yang penting keluarga di kampung bisa makan. Pertama kali sampai Jakarta tahun 1995, umur 22. Waktu itu istri saya tinggal di kampung, lagi hamil anak pertama,” kenangnya dengan logat medhok.

Sesampainya di Jakarta, berbagai macam pekerjaan ia jajal. Mulai dari menjual bakso di bilangan Senen, Jakarta Pusat, hingga menjadi tukang kredit baju keliling. Semua ia lakukan demi keluarga tercinta.

Akan tetapi, keberuntungan tidak menerpanya, usaha yang ia bangun kerap kali jatuh bangun. Namun, pria kelahiran Purworejo, 43 tahun silam ini tak patah arah.

Berkat relasi yang ia bangun saat berdagang, salah satu temannya merekomendasikan dirinya untuk bekerja sebagai buruh kerja bangunan. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk berkarir sebagai pekerja bangunan.

“Tahun 2008 saya mulai jadi kuli, ya sampai sekarang. Kata orang-orang, ‘ngapain jadi kuli, capek,’ tapi saya nikmatin aja. Yang penting pemasukan lancar, ga mikirin untung rugi,” ujarnya.

Saat ditanya tentang penghasilan, ia mengaku cukup untuk membiayai hidupnya di Jakarta,  istri di kampung halaman, dan anaknya yang masih bersekolah.


“Kadang suka kangen anak istri di kampung mas. Pulangnya paling cepet setahun sekali, tergantung proyeknya selesai cepet atau lama,” ujarnya sembari menunjukkan foto keluarganya yang ia simpan di dompet.